
Pameran Seni Video Muhammad Akbar Hadir di Jakarta
JAKARTA – Seniman sekaligus dosen Universitas Widyatama, Muhammad Akbar, S.Pd., M.Sn., menggelar pameran tunggal bertajuk “Hard-Daydreaming” yang secara tajam mengkritik kesenjangan antara realita pahit kehidupan urban dengan ilusi mimpi yang ditawarkan penguasa. Pameran Seni Video ini berlangsung di Sewu Satu Galeri, Jakarta Art Hub, Jakarta, mulai 28 Juni hingga 27 Juli 2025. Melalui serangkaian karya video dalam berbagai format, Akbar mengajak pengunjung untuk merefleksikan absurditas kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan.
Pameran ini menampilkan karya-karya yang mengeksplorasi konflik emosional dan eksistensial, sebuah representasi visual dari kondisi masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang kota distopia. Pengunjung disuguhkan penggambaran antara sakit dan sehat, terang dan gelap, serta naik dan turun yang merefleksikan kebingungan eksistensial. Situasi ini memaksa manusia untuk terus menjalani hidup, dituntut menerima keadaan tanpa banyak keluhan, sementara pada saat yang sama terus-menerus disajikan mimpi-mimpi ideal yang pada dasarnya hanyalah ilusi keagungan semata.
Kritik Tajam Atas Janji dan Realita Sosial






Muhammad Akbar, yang juga merupakan dosen Program Studi Produksi Film dan Televisi di Universitas Widyatama, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari kegelisahan personalnya terhadap kondisi sosial politik. Ia menyoroti bagaimana masyarakat kerap hidup dengan janji-janji dari otoritas yang tidak pernah terwujud. Akibatnya, realita yang diterima tidak pernah sesuai dengan harapan yang dicitakan.
“Pameran ini bercerita tentang bagaimana kita hidup dengan banyak janji-janji dari penguasa dan sehari-hari kita tidak mendapatkan janji itu. Kita diberikan mimpi yang tidak kita butuhkan, jadi kita mendapatkan realita yang tidak pernah sesuai harapan,” ungkap Akbar saat diwawancarai. Ia menambahkan bahwa karyanya tidak hanya mengomentari kondisi di Indonesia, tetapi juga relevan dengan isu-isu global.
Lebih lanjut, pameran “Hard-Daydreaming” ini menjadi medium bagi Akbar untuk mengartikulasikan hubungan antara manusia dengan kekuatan yang lebih besar atau penguasa. Tema ini secara konsisten ia eksplorasi dalam karya-karyanya yang lain. Dengan demikian, pameran ini bukan sekadar presentasi estetika visual, melainkan juga sebuah pernyataan sikap yang kuat terhadap dinamika kekuasaan dalam kehidupan keseharian.

Eksplorasi Visual dan Rekam Jejak Seniman
Sebagai seniman yang memilih video sebagai medium utamanya, Muhammad Akbar secara mahir menggunakan format gambar bergerak untuk menyampaikan narasinya. Dalam pameran ini, ia menyajikan karya dalam format single channel hingga representasi tiga dimensi yang imersif. Selain itu, Akbar juga banyak mengangkat tema tentang “tatapan”, di mana posisi subjek yang menatap dan objek yang ditatap menjadi sebuah eksplorasi artistik yang mendalam.
Kredibilitas Akbar di kancah seni rupa nasional dan internasional tidak perlu diragukan lagi. Dengan pengalaman berkarya lebih dari satu dekade, ia telah berpartisipasi dalam berbagai perhelatan seni bergengsi. Di antaranya adalah pameran 50 tahun Godless di Galeri Nasional pada 2023, sesi pemutaran karya (screening) di Palapa Screening di Kyoto, Jepang, serta pameran RWD Fest bersama Rakarsa Foundation pada akhir 2024, di mana ia menginisiasi program “Gerak Gerik” bersama kurator asal Polandia, Krzysztof Łukomski.
Rangkaian rekam jejak ini menegaskan posisinya sebagai salah satu seniman video art terdepan di Indonesia yang konsisten menyuarakan isu-isu kritis. Oleh karena itu, pameran “Hard-Daydreaming” menjadi sebuah momen penting untuk melihat perkembangan artistik dan pemikirannya yang terbaru. Pameran Seni Video ini menjadi bukti nyata konsistensinya dalam berkarya.
Pameran tunggal ini pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga sebuah ajakan untuk terus berdialog dan mempertanyakan keadaan. Melalui karya-karyanya, Akbar mendorong para penikmat seni, terutama generasi muda, untuk tidak pernah berhenti berkarya dan bersuara. Ia menekankan pentingnya eksperimen, baik dari sisi teknis maupun narasi, untuk menghasilkan karya yang relevan dan berdampak.



“Karya saya mediumnya itu video dan saya ingin mengajak teman-teman juga untuk berkarya video. Kita jangan pernah berhenti bereksperimen secara teknis ataupun narasi,” pungkasnya dengan semangat. Pesan ini menjadi penutup yang kuat, menggarisbawahi peran seni sebagai alat untuk perubahan dan refleksi kritis di tengah zaman yang penuh ketidakpastian.



