
Sidang Akhir Mahasiswa FTV Widyatama Lahirkan Film Siap Komersial
BANDUNG – Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi (FTV) Universitas Widyatama menggelar sidang akhir kelulusan pada Senin, 25 Agustus 2025. Bertempat di Lantai 5 gedung perkuliahan, kegiatan ini menjadi puncak perjuangan akademis sekaligus syarat wajib kelulusan bagi para mahasiswa. Dalam sidang tersebut, mahasiswa mempresentasikan karya film orisinal mereka yang dikerjakan selama hampir dua tahun di hadapan dewan penguji internal dan eksternal, yang hasilnya menuai banyak pujian dan dianggap memiliki potensi komersial.
Karya Film Quarter Life Crisis Curi Perhatian

Salah satu karya yang menjadi sorotan dalam sidang akhir kelulusan kali ini adalah film yang digarap oleh Mayang Sunda dan Ahnaf Fauzan. Mereka mengangkat tema quarter life crisis (QLC), sebuah fenomena keresahan emosional yang kerap dialami individu pada rentang usia pertengahan dua puluhan. “Jujur aku bener-bener terharu banget karena prosesnya panjang, hampir dua tahun. Capek tapi senang sekali karena kita berhasil di tahap ini,” ungkap Mayang dengan lega setelah sidang usai.
Tema ini pun mendapat apresiasi tinggi dari dewan penguji karena kedekatannya dengan audiens. Fajar Nur Ramadhan, penguji eksternal dari 4 Ruang Dimensi, menyatakan bahwa tema tersebut sangat menarik dan relevan. “Filmnya sangat menarik terutama bawa kasus atau tema yang sifatnya tuh dekat dengan kita. Itu gampang banget akhirnya untuk bonding dengan audiens, ceritanya jadi relatable,” jelas Fajar. Menurutnya, pemilihan tema ini adalah dasar yang kuat untuk sebuah karya film.
Kesiapan Mahasiswa Tuai Pujian Dewan Penguji

Tidak hanya dari segi tema, kesiapan para mahasiswa dalam menghadapi sidang akhir kelulusan juga menjadi poin utama yang dipuji oleh para penguji. Ketua Sidang, Muhammad Akbar, S.Pd., M.Sn., menilai bahwa persiapan yang dilakukan sudah sangat matang. “Menurut saya persiapannya sudah sangat siap, jadi karya juga sudah selesai dan presentasinya juga sangat baik dilakukan. Output karya ini juga harus sudah siap tayang untuk di eksebisi ke publik,” ujarnya, menekankan pentingnya riset mendalam dan detail dalam setiap karya.
Penilaian positif juga datang dari penguji eksternal lainnya, Roberto Rosendy. Ia melihat para mahasiswa mampu memaparkan materi dengan baik serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lugas. “Kalau kesiapannya sih aku lihat mereka sudah cukup proper. Dari sisi aspek visual, audio, secara teknikal dan keseluruhan film ini cukup kuat. Ketika memang mau dikembangkan ke komersial, itu sudah cukup siap,” tegas Roberto, memberikan sinyal positif terhadap masa depan karya tersebut di industri perfilman.
Harapan Baru Bagi Ekosistem Film Bandung

Keberhasilan sidang akhir kelulusan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal bagi mahasiswa dan institusi, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi regenerasi industri perfilman lokal. Fajar Nur Ramadhan menyoroti kondisi ekosistem film di Bandung yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan talenta segar. “Kita butuh regenerasi. Semoga teman-teman dari Widyatama bisa menjadi calon-calon regenerasi baru di perfilman Bandung karena kita butuh warna yang baru, kita butuh spirit yang baru,” harapnya.
Harapan ini sejalan dengan visi para mahasiswa. Mayang dan Ahnaf berharap karya mereka dapat menjadi pemantik perubahan positif di almamaternya. “Semoga kedepannya tuh makin banyak perubahan-perubahan, terutama di angkatan kami, semoga itu jadi pemantik bagi Widyatama,” kata Ahnaf. Dengan selesainya sidang akhir kelulusan ini, para lulusan FTV Widyatama kini siap melangkah untuk tidak hanya meraih gelar, tetapi juga untuk mengisi ruang-ruang kosong di industri kreatif dengan karya-karya yang bermakna dan berkualitas.



