
Mahasiswa FTV Widyatama Gali Ilmu Film di LSF & PFN Jakarta
JAKARTA – Puluhan mahasiswa dan dosen dari Program Studi (Prodi) Produksi Film dan Televisi (FTV) Universitas Widyatama menyambangi Jakarta pada Rabu, 2 Juli 2025. Mereka melakukan kunjungan industri edukatif ke dua institusi vital perfilman nasional, yakni PT. Produksi Film Negara (PFN) dan Lembaga Sensor Film (LSF). Kunjungan strategis ini bertujuan membekali para calon sineas muda dengan pemahaman komprehensif tentang alur produksi hingga krusialnya sensor film, agar karya mereka kelak tidak hanya berkualitas namun juga sejalan dengan nilai dan budaya bangsa.
Kunjungan ini merupakan langkah konkret Prodi FTV Widyatama untuk menjembatani dunia akademik dengan industri perfilman profesional. Para mahasiswa tidak hanya melihat langsung operasional di PFN yang sarat akan sejarah produksi film Indonesia, tetapi juga terlibat dalam diskusi mendalam di LSF. Mereka mendapatkan pencerahan langsung mengenai mekanisme, kriteria, dan filosofi di balik proses sensor yang seringkali menjadi topik hangat di kalangan para pembuat film dan penikmatnya.
Menggali Pentingnya Sensor Demi Film Bernilai

Atmosfer pembelajaran begitu kental terasa, terutama saat sesi di Lembaga Sensor Film. Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom, yang hadir dalam kapasitasnya sebagai dosen FTV Widyatama sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, menggambarkan antusiasme yang tinggi dari rombongan. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini memberikan wawasan yang sangat fundamental bagi para mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjadi insan kreatif di industri perfilman.
“MasyaAllah kita seperti belajar 3 SKS tadi,” ujar Atalia Praratya usai bertemu dengan pimpinan LSF. “Kita kan membuat film itu tidak hanya harus berkualitas, bagaimana juga berdaya saing, tapi juga punya value, nah tapi dari 3 ini ada satu juga ada yang tidak kalah penting yaitu bisa lolos sensor. Oleh karenanya bagaimana kita bisa terus menjaga budaya kita, nilai-nilai kita, maka sangat penting sekali lembaga sensor film,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa lebih dari 60 mahasiswa yang hadir bertekad menghasilkan karya yang baik, bagus, dan turut menjaga Indonesia.
Perspektif Sineas Muda dan Klasifikasi Usia
Dampak kunjungan ini dirasakan langsung oleh para mahasiswa yang menjadi peserta. Salma Aulia Rahma, seorang mahasiswi FTV angkatan 2024, mengaku mendapatkan perspektif baru yang akan memengaruhi proses kreatifnya di masa depan. Pemahaman mengenai sensor bukan lagi dilihat sebagai penghalang, melainkan sebagai sebuah panduan untuk menciptakan karya yang lebih bertanggung jawab dan tepat sasaran bagi audiensnya.

“Saya sangat senang dan memiliki informasi yang baru tentang lembaga sensor di dalam film,” ungkap Salma dengan antusias. “Setelah tahu dari informasi yang aku dapat dari sini, dalam membuat film nanti kita juga bisa lebih ke nentuin dulu dari usianya tuh di berapa, baru dimasukin di Lembaga Sensor ini. Jadi kita harus bener-bener dari script-nya juga kita harus pintar-pintar,” lanjutnya. Kesadaran ini menunjukkan bahwa edukasi sensor sejak dini dapat membentuk pola pikir sineas yang lebih matang.

Implementasi Wawasan untuk Karya Bermutu
Kunjungan Prodi FTV Widyatama ini diharapkan tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan menjadi fondasi bagi karya-karya mahasiswa yang lebih unggul. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Widyatama, Dr. Soni A. Nulhaqim, S.Sos., M.Si., mengamini hal tersebut. Ia melihat kunjungan ini memberikan inspirasi praktis bagi mahasiswa dan dosen dalam menghasilkan karya yang memiliki daya saing, nilai manfaat, sekaligus mempertimbangkan aspek penilaian LSF.
“Alhamdulillah sangat kaya akan wawasan berkaitan dengan bagaimana instrumen-instrumen lembaga sensor film itu melakukan penilaian,” kata Dr. Soni. “Hal yang inspiratif tentunya menjadi pedoman dalam membuat karya dan juga memanfaatkan karya tersebut untuk dinikmati adalah jangan lupa memilah dan memilih film sesuai dengan klasifikasi usia. Lihatlah klasifikasi usia tersebut, sehingga film tersebut memiliki makna untuk setiap individu,” pesannya. Lebih lanjut, pihak universitas juga membuka peluang kerjasama lanjutan, seperti mengundang para praktisi dari LSF dan PFN sebagai narasumber ahli untuk memperkaya kurikulum pembelajaran di kampus.



