
Prodi FTV Widyatama Gelar Workshop Design Thinking di SMKN 5 Bandung: Tanamkan Cara Berpikir Kreatif Sejak Bangku Sekolah
BANDUNG PRODI FTV WIDYATAMA.AC.ID – Halo sahabat FTV. Pelatihan pembelajaran kreatif dan partisipatif baru baru ini digelar Civitas Prodi FTV Widyatama di Jurusan Produksi Film SMKN 5 Bandung dengan tajuk Design Thinking. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diprakarsai oleh Biro P2M Universitas Widyatama, bekerja sama dengan Program Studi D4 Produksi Film dan Televisi (FTV) Universitas Widyatama serta didukung oleh pihak sekolah sebagai mitra vokasi.
Workshop yang diperuntukkan bagi siswa kelas XI ini dipandu oleh dosen FTV Widyatama Erwin Windu Pranata, yang mengampu mata kuliah Tata Artistik, Special Effects, Metode Penciptaan Seni dan Komputer Grafis. Erwin hadir bersama beberapa dosen dan mahasiswa FTV Universitas Widyatama sebagai wujud kemitraan yang mendukung suasana kolaboratif lintas jenjang pendidikan dan pengembangan diri.
Menumbuhkan Keberanian untuk Berpikir Kreatif
Kegiatan dibuka dengan pengantar yang memperkenalkan design thinking sebagai metode berpikir kreatif yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk produksi film dan media. Alih-alih menyampaikan teori panjang lebar, Erwin lebih memilih memulai dengan aktivitas partisipatif. Para peserta diajak menuliskan nama, hobi, dan nilai pembelajaran dari hobi tersebut dalam sebuah sticky note dan menempelkannya di dada.
Melalui aktivitas sederhana ini, peserta diajak menyadari bahwa minat dan aktivitas sehari-hari dapat menjadi sumber gagasan kreatif. Hobi seperti menulis, bermain musik, menggambar, bahkan menonton drama televisi, dibingkai sebagai titik awal untuk memahami diri dan mengembangkan pola pikir solutif.
Latihan Berpikir Cepat dan Mengatasi Rasa Takut Salah
Salah satu aktivitas yang mencuri perhatian adalah saat peserta diminta menggambar wajah teman sebangkunya hanya dalam waktu 45 detik. Latihan ini dirancang bukan untuk menghasilkan gambar yang indah, tetapi untuk melatih keberanian mencoba dan membebaskan diri dari ketakutan terhadap kegagalan. Hasil-hasil gambar yang lucu dan jauh dari realistis justru menjadi bahan diskusi yang hangat, mencairkan suasana dan membuka ruang interaksi antar siswa.
Melalui kegiatan ini, peserta mulai memahami bahwa kreativitas bukanlah hasil akhir, melainkan proses yang menuntut keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk menghadapi hasil yang tidak sempurna. Inilah yang disebut sebagai creative confidence — keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi kreatif yang dapat dikembangkan.
Memahami Esensi Design Thinking
Setelah menciptakan suasana yang terbuka dan menyenangkan, barulah peserta diajak masuk ke pembahasan inti mengenai design thinking. Erwin menjelaskan bahwa metode ini digunakan untuk menyelesaikan masalah melalui pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna, perumusan masalah yang tepat, dan eksplorasi solusi melalui kerja sama tim. Metode ini lazim digunakan dalam dunia desain produk, namun juga sangat relevan untuk dunia kreatif seperti film dan media visual.
Design thinking diperkenalkan sebagai proses lima tahap: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Peserta diperlihatkan bagaimana tahapan-tahapan ini bukan bersifat linier, tetapi iteratif—selalu memungkinkan pengulangan untuk memperbaiki hasil dan solusi.
Praktik Langsung: Dari Persona hingga Peta Masalah
Dalam tahap Empathize, peserta diajak membuat persona fiktif — yaitu tokoh imajiner yang mewakili target pengguna atau audiens. Setiap kelompok merancang profil lengkap tokoh tersebut, mulai dari latar belakang hingga tantangan yang mereka hadapi. Aktivitas ini membuka ruang empati dan mengajarkan cara berpikir dari perspektif orang lain.
Dari persona tersebut, kelompok kemudian merumuskan masalah utama yang mereka anggap perlu dipecahkan. Proses ini membantu peserta belajar membedakan antara gejala dan akar masalah, serta mengembangkan keterampilan dalam merumuskan problem statement yang spesifik.
Ideasi dan Prototipe: Kolaborasi untuk Mencari Solusi
Tahapan berikutnya yaitu Ideate, mendorong peserta mengeluarkan berbagai kemungkinan solusi secara bebas dan terbuka. Setiap kelompok diberi ruang untuk bertukar ide tanpa khawatir salah. Suasana diskusi pun hidup, dengan siswa saling memberi masukan dan memperkaya gagasan satu sama lain. Ini menjadi latihan penting dalam kerja tim, negosiasi ide, dan penyampaian argumen secara konstruktif.
Dari gagasan yang terkumpul, masing-masing kelompok memilih satu solusi utama yang akan divisualisasikan dalam bentuk prototipe. Di konteks workshop ini, prototipe dapat berupa storyboard, sketsa media kampanye, atau konsep video sederhana. Peserta belajar menyederhanakan gagasan menjadi bentuk visual yang dapat dijelaskan dan diuji.
Simulasi Uji Coba dan Refleksi
Setelah membuat prototipe, masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya kepada kelompok lain dan menerima tanggapan sebagai bentuk simulasi testing. Dalam sesi ini, peserta dilatih untuk mendengarkan masukan secara objektif dan tidak defensif, serta menilai apakah solusi yang mereka ajukan memang menjawab kebutuhan dari persona yang telah dibuat sebelumnya.
Kegiatan ini bukan hanya soal membuat karya, tetapi tentang belajar dari proses dan melihat nilai dari feedback loop. Gagasan tidak berhenti di satu titik, tetapi dapat terus diperbaiki berdasarkan respons dan refleksi.
Menanamkan Pola Pikir Iteratif dan Manusiawi
Di akhir workshop, peserta diajak merefleksikan apa yang telah mereka pelajari. Salah satu nilai penting yang ditekankan adalah bahwa design thinking menempatkan manusia sebagai pusat perhatian—baik sebagai pencetus maupun penerima solusi. Proses iteratif, kolaboratif, dan berbasis empati menjadi kekuatan utama dalam metode ini.
Peserta juga disadarkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk banyak hal — dari membuat film, merancang produk media, hingga menyusun kampanye sosial atau bahkan memecahkan persoalan sehari-hari. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk berpikir terbuka, mendengarkan orang lain, dan mencoba berbagai kemungkinan.
Membuka Jalan Menuju Inovasi
Workshop ini membuktikan bahwa metode pengajaran yang berbasis praktik dan interaktif memiliki dampak besar dalam membangun kepercayaan diri dan keterampilan berpikir kritis siswa dengan terlibat langsung dalam proses menciptakan solusi, bekerja sama dalam tim, dan mengasah kepekaan sosial mereka melalui empati.
Dari pihak sekolah, kegiatan ini disambut dengan antusias. Bagi para pengajar dan kepala program jurusan, workshop ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan vokasi bisa diperkaya dengan kolaborasi lintas institusi dan pendekatan pembelajaran berbasis proyek.
Bagi Universitas Widyatama sendiri, kegiatan ini menjadi perwujudan dari komitmen untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat luas, sekaligus membangun koneksi antara dunia akademik dan pendidikan menengah kejuruan.
Melalui workshop ini, peserta dibekali dengan pola pikir kreatif yang akan berguna di masa depan — baik dalam berkarya di bidang produksi film, maupun dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan dunia kerja yang terus berubah.
Sekolah Sambut Baik PKM FTV Widyatama
Dalam sambutannya, Wakil Kepala Sekolah SMKN 5 Bandung Widayati.,S.Pd.,M.M.Pd mengemukakan, sekolah menyambut baik kegiatan PKM yang diselenggarakan Civitas Prodi FTV Widyatama bagi siswa. Ia berharap kegiatan workshop akan menambah wawasan maupun keahlian siswa dalam hal mengembangkan berpikir kreatif yang sangat baik menjadi bekal di dunia profesional kelak.
Kegiatan PKM merupakan program berkelanjutan dari kerjasama antara Prodi FTV Widyatama dengan SMKN 5 Bandung yang sudah terjalin sejak tahun 2023, diantaranya kerjasama produksi video pembelajaran PMM Ditjen Guru & Tenaga Kependidikan Kemendibudristek selama 2 tahun berturut-turut. ***Dewan Redaksi



